…but what is normal, anyway?

Jari saya berat banget ngetik judul tulisan kali ini. Karena rasanya belom pernah ketemu kenyataan yang begini keras menampar muka. Asli.

2 hari yang lalu, bapak mertua kakak saya meninggal karena Corona. Beliau memang sudah dirawat di rumah sakit sejak pertengahan Maret karena penyakit jantung yang dideritanya. Namun ketika lalu statusnya bertambah menjadi positif corona, saya pun ikut deg-degan. Teringat kakak saya dan istrinya yang kini menjadi ODP, keponakan saya dan…semuanyalah. Campur aduk.

Begitu diberi kabar bahwa beliau meninggal pada Rabu pagi, saya pun gak nanya-nanya lagi disemanyamkan di mana dan atau dikuburkan di mana karena saya tau kakak saya pun pasti lagi pusing mengatur segala sesuatunya. Saya segera membatalkan seluruh janji video call hari itu. Semua revisi pun saya pending. Untungnya, banyak yang mengerti.

Tapi yang saya gak siap justru ketika harus memberitahukan orang tua saya. Bayangkan ini 2 orang lansia berusia 70 an asli Jawa yang…sangat njawani. I don’t have to tell you more about this lah ya.

Bapak langsung panik ingin melayat. Jangan, saya bilang. Keadaan tidak memungkinkan. Lagian jenazah tidak boleh dibawa pulang. Prosedur pemakaman pasien corona adalah jenazah langsung dimakamkan oleh petugas yang berwenang.

Bantah-bantahan berlangsung lebih panjang dari ini ya, tapi saya gak mau terlalu detil karena oh sungguh sangat menguras emosi #ketawagetir. Di satu sisi saya mengerti banget bahwa beliau hanya berusaha bersikap baik, tapi masalahnya di masa pandemi ini, niat baik bisa jadi malah ngerepotin.

Sesederhana gini aja; dulu yang baik dilakukan adalah: datang, bertamu dan silahturahmi. Salaman, cium tangan. Tanya kabar, ngobrol, ketawa. Tepuk bahu, rangkul, peluk. Tapi ini dulu.

The New Normal? Tanya kabar lewat Zoom, Whatsapp Video Call, Skype atau Google Meet/Hang Out. Kadang ngelag karena keganggu koneksi yang lamban. Atau keputus karena paket data habis. Gak gampang buat yang gak kebiasa. Tapi mau gak mau harus bisa, harus menyesuaikan. Karena kalo gak, ya sedih dong gak dapet kabar dari orang-orang terdekat. Lagian, manusia sebagai mahluk sosial emang butuh tetap terhubung kok. Biar waras.

Yes, people. This is The New Normal.

Siang itu saya segera mencari toko bunga yang masih buka di sekitar Bintaro. Untungnya ada di depan pasmod Bintaro. Thank God. Saya langsung ke depan sebuah toko bunga yang di depannya sudah memajang papan bertuliskan ‘Turut Berduka Cita’ (Hey, good marketing!). Saya pun masuk dan memesan bunga papan, menuliskan nama bapak saya dan ditujukan kepada siapa serta alamat pengiriman. Gak lama. Yang bikin langkah saya tertahan malah justru ketika si mbak Florist bertanya,”Meninggal kenapa, mbak?”

“Corona, mbak,” kata saya, lirih. Dia mengangguk mengerti,”Iya, akhir-akhir ini kami banyak terima pesanan bunga papan ucapan duka cita untuk pasien corona. Bunganya sampe, jenazahnya gak ada. Yang ngelayat juga gak ada. Sepi banget,”

Saya termenung sebentar,”Sepi? Bener-bener sepi?”

“Sepi, mbak. Cuma bunga papannya aja berjejer,”

Kepala saya pening tiba-tiba.

Yes people, this is The New Normal. Kita gak bisa melayat pasien yang meninggal karena corona.

Malamnya, kami semua sholat jenazah melalui Zoom meetings. Terlihat keluarga kakak saya yang sholat dengan shaf berjarak 1 meter. Semuanya mengenakan masker. Menurut imamnya, yang kita lakukan adalah sholat ghaib jenazah, karena, ya, jenazahnya gak ada. Obviously.

Setelah sholat jenazah berakhir, berlanjut tausiah yang juga melalui Zoom. Setelah tausiah selesai, semua yang hadir lalu bergiliran satu-satu memberikan ucapan belasungkawa. Somehow, kesedihan malam itu terasa pekat sekali. So thick bikin sesak dada. Bener-bener gak kebayang sedihnya kayak apa, ketika orang terdekat kita meninggal dan kita gak bisa pamitan dan mengantar ke tempat peristirahatan terakhir. We didn’t even have a chance to say proper goodbye.

Tapi lalu, apa sih yang proper di jaman gila kayak gini?

And yes, people, this is the new normal. Sholat ghaib jenazah, tausiah, ucapan belasungkawa, semua melalui Zoom Meetings. Virtual.

Malam itu saya tidur cepat karena rasanya lelah luar biasa. Emotionally.

Besoknya pikiran saya masih gak fokus. Seharian blank aja gitu. Masih mencoba mencerna apa yang benar-benar terjadi sehari sebelumnya. Ternyata ya, walaupun udah belajar untuk bisa menerima segala sesuatu yang berkondisi itu gak akan abadi, tetep aja pas ngalamin rasanya kepala kayak dijedotin ke tembok. Sakit. Nyeri.

Gak ada yang siap. Siapa yang siap?

Termasuk pandemi ini, yang bikin cara hidup orang berubah ekstrim. Bahkan untuk hal-hal terkecil kayak belanja sayur. Sesering-seringnya saya belanja online, saya tetap lebih menikmati belanja sayur langsung ke pasar modern. Memegang langsung sayuran, buah, ikan. Bisa milih jamur yang bagus, bunga kecombrang yang besar, ikan yang gendut atau alpukat yang matang. Sambil milih sambil nawar #teteup. Ada obrolan kecil antara saya dengan pedagang untuk hal sesederhana kalo kecombrang bikin semua masakan sayuran terasa mewah karena aromanya.

Sekarang? Gak bisa. Belanja sayuran (terpaksa) pake aplikasi. Mau ngotot tetep ke pasar? Ya bisa aja sih, kalo pasarnya masih buka. Tapi lalu mikir gak, bakalan terpapar sama virus corona yang konon makin pinter aja imitatingnya? Abis itu nularin orang rumah?

Naini.

Gak adil ya? Gak juga sih. Satu dunia merasakan hal yang sama kok. Gak miskin gak kaya. Gak tua gak muda. Tinggal gimana ngadepinnya aja.

Saya yakin akan masih banyak The New Normal lainnya akibat pandemi ini, di tahun ini. So, let’s see…

 

 

 

Standard

2 thoughts on “…but what is normal, anyway?

  1. Anna deasyana says:

    Ciciii..turut berduka cita yaa..gue nangis bacanya karena relate bgt sama hidup gue akhir2 ini. Sebagai orang yang kerja di pusat kesehatan, gue liat bagaimana pasien2 odp/pdp khawatir bahkan sampai dikucilkan. Gue juga lihat temen2 dokter, perawat dan semuanya kelelahan karena mesti turun lapangan dengan apd yang super panas..ga ada lagi yang bisa pelukan, makan bareng, atau foto sampai nempel badan satu sama lain. Miss the old days..

    Oh iya, the new normal lainnya adalah virtual hug, virtual kiss, dan segala bentuk afeksi virtual. Senang juga liat para babyboomers bisa nge-zoom, webinar, atau nyobain teknologi lainnya..

    Liked by 1 person

    • Makasih Annaaaaa…iya ya, deg banget ini The New Normal. Kayak tiap hari disuruh adjust terus. Masalahnya gak semua orang bisa dibilangin juga, masih banyak yang ignorant.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s